Blog

Etiam non erat consequat, tincidunt nulla quis, aliquet sapien. Nulla porta mauris lectus, vel ultrices libero fringilla vitae. Nam ut dolor id elit faucibus fermentum at non lacus.

Oleh: Fiya Ma’arifa Ulya

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dijelaskan bahwasannya sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Memang, kita tidak bisa memungkiri jika pasar adalah jantung perekonomian masyarakat. Interaksi tidak hanya antar penjual dan pembeli, tetapi juga antar berbagai pihak yang memiliki kepentingan dengan penjual di pasar. Salah satunya adalah para bank plecit/ rentenir.

Keberadaan bank plecit di pasar seperti api dalam sekam yang sekilas tampak tidak menghanguskan tetapi sebetulnya ia membakar dari dalam. Fenomena bank plecit di pasar pun di kisahkan oleh Ibu Sugiyanti. Ia adalah jamaah Kajianmu di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo. Bu Sugiyanti sehari-hari memanfaatkan waktunya untuk berjualan di Pasar Semampir, Argorejo, Sedayu, Bantul. Ia menjajakan aneka bumbu untuk menambah keihsanan rasa masakan.

Mencoba Berjualan

Semenjak Ibu yang memiliki satu anak ini memutuskan untuk berhenti bekerja di pabrik tekstile, ia kemudian mencoba menjalankan profesi lain, yakni berdagang. Oleh karena menjadi buruh di pabrik membuatnya terlalu lelah bekerja, sementara usia Bu Sugiyanti sudah semakin senja.

“Kulo nembe sadeyan niku anyaran niki (pasar). Dereng dangu kok, namung anyaran niki. Tahun piro yo nok ?, tahun 2016 akhir nopo.. ini kan baru. Riyin kan tunggale kulo ten ngriki sadeyan, terus pindah. Terus kulo sek ten ngriki (read: Saya baru berjualan itu sejak baru nya tempat ini/selesai pasar direnovasi. Belum lama, hanya sejak tempat ini direnovasi. Thun berapa itu ya nak ?, sekitar akhir tahun 2016. Pasar ini kan masih baru. Dahulu kan saudara saya yang jualan disini, terus dia pindah. Kemudian saya yang menempati disini).” Papar Ibu berperawakan kecil kurus ini.

Bu Sugiyanti belajar berjualan dengan kakaknya yang juga menyediakan bumbu di Pasar Semampir, Argorejo. Namun, Bu Sugiyanti berjualan dalam jumlah yang lebih sedikit daripada kakaknya. Modal awal untuk membeli berbagai bumbu yang akan dijual lagi sebanyak kurang lebih Rp. 500.000. Bu Sugiyanti biasa berkulakan dari tengkulak yang mangkal di depan pasar setiap pagi.

“Saya belinya di depan sana itu Mbak. Kan tiap pagi ada to.. Mbak. Ten ngajeng niku kan okeh to Mbak mben enjing. Kulakane nggih mboten mesti, nek mpun telas nggih kulak (read: di depan itu kan banyak Mbak setiap pagi. Kulakan kalau sudah habis).” Ujar Bu Sugiyanti

Ia menceritakan bahwa sebagai pedagang baru yang belum lama berjualan, terkadang ia bingung saat harus melayani pembeli yang datang secara bergantian dan kesemuanya minta segera dilayani. Menurut Bu Sugiyanti, seorang pedagang baru seringkali menjadi sasaran pembeli dikarenakan status “baru” nya tersebut.

“Riyin rame Mbak, pas kulo awal-awal niko. Pedagang baru itu baru..terus sami mriki, mumet kulo leh ngedoli (Dahulu ketika awal berjualan itu rame. Pedagang baru itu baru..terus pada kesini, pusing saya saat melayani). Kisah Ibu yang memiliki 1 anak tersebut.

Selain berjualan di pasar, Bu Sugiyanti juga melayani pembeli yang datang ke rumah. Meskipun di rumah juga tidak membuka lapak layaknya di pasar, namun para tetangga sudah mafhum bahwa ia berjualan berbagai macam bumbu. Sehingga cukup banyak tetangga yang datang ke rumah untuk membeli bumbu apalagi di pagi hari.

Kulo ten mriki mawon, tapi ten griyo nggih wonten sing tumbas. Kan mpun ngertos to Mbak nek kulo sade. Nek enjing niko kathah biasane (read: Saya jualannya di pasar ini aja, tapi di rumah juga ada yang beli. Kan sudah pada tahu Mbak kalau saya jualan. Kalau pagi itu biasanya banyak yang beli).” Lanjutnya

Tawaran Pinjaman

Sebagai pedagang yang masih baru dan belum tahu kondisi pasar, Bu Sugiyanti kerap kali menjadi sasaran bank plecit yang menawarkan layanan pinjaman uang dengan bunga tinggi. Ia menceritakan bahwasannya hampir setiap hari ia ditawari untuk meminjam uang.

Kathah Mbak ten mriki niku. Ben dinten wonten, kulo sok ditawari tapi kulo mboten mundhut Mbak. Wedi kulo (read: banyak Mbak disini ini. Setiap hari ada, saya suka ditawari tetapi saya nggak mau pinjam soalnya saya takut). Kan belum pernah pinjam sama sekali, dados kulo wedi (read: jadi saya takut).”Ungkap istri dari Bapak Paijo tersebut.

Sejak pertama kali berjualan pada sekitar tahun 2016 akhir hingga sekarang, Bu Sugiyanti sama sekali tidak pernah meminjam ke rentenir, meskipun bujuk rayu selalu datang tiap kali berjualan. Ia sangat berhari-hati dalam bertindak perihal keuangan, tidak sembarangan meminjam. Bagi Bu Sugiyanti, peran suami adalah pertahanan diri paling kuat untuk tidak pernah berkata “iya” pada bank plecit atau rentenir.

Kulo sok sanjang kalih bojo kulo Mbak. Nek badhe mundhut pinjaman angsal mboten ngoten. Nek bojo kulo mboten nggih kulo mboten Mbak. Wedi kulo, mboten tau utang kulo niku. (read: Saya suka menyampaikan ke suami saya Mbak. Kalau mau mengambil pinjaman boleh apa tidak. Kalau suami saya mengatakan tidak ya saya tidak pinjam Mbak. Saya takut, saya tidak pernah hutang).” Jelasnya

Ikut Kajianmu

Bu Sugiyanti adalah sosok yang sering berjamaah di masjid, sehingga saat Kajianmu diadakan sejak pertama kali di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, ia sudah mengikuti. Ia merasa senang dengan ikut Kajianmu karena jadi bisa kembali belajar membaca Al Qur’an dan tentu saja bernostalgia karena kembali merasakan mengaji di masjid sebagaimana yang biasa Bu Sugiyanti lakukan di waktu kecil.

“Bermanfaat Mbak, wong pelajarane yo apik-apik kok Mbak. Mbangane ning umah, wong bojone yo, ngono melu ngaji-ngaji tiap hari. Nek kulo malah senang Mbak..soale keluargane kulo riyin tertib-tertib, aktif ten masjid ket kulo umur ya pokoknya sejak kecil lah. (read: Kajianmu bermanfaat Mbak, hal-hal yang diajarkan juga bagus Mbak. Daripada hanya berdiam diri di rumah, orang suami saya juga menyuruh saya agar pergi mengaji setiap hari. Kalau saya malah senang Mbak, soalnya keluarga saya dahulu tertib, aktif di masjid sejak usia saya masih kecil).” Ungkap Bu Sugiyanti

Selain mengaji, Ibu yang berpembawaan lembut ini juga merasakan manfaat dari pinjaman yang disalurkan oleh Kajianmu, utamanya bisa untuk menambah modal jualan di pasar.

“Iya bermanfaat, pinjamannya bisa buat tombok-tombok jualan ini. Buat nambah modal ini, saya hanya ambil Rp. 200.000 kok Mbak. Saya kan nggak pernah hutang to Mbak, jadi saya baru nyoba-nyoba kemarin. Ya semoga besok bisa pinjam yang lebih besar lagi.” Lanjut Bu Sugiyanti sembari tertawa.

Kajianmu adalah program pemberdayaan masyarakat berbasis pengajian, pemberian pinjaman modal tanpa jaminan dan bunga, serta pendampingan usaha kepada Ibu-Ibu jamaah. 

Link

Home

Tentang Kajianmu

Donasi

Blog

Gallery

Kontak Layanan

Kabar Terbaru

Bu Ponirah, Sudah Mengaji Sampai Al Qur’an

Oleh: Fiya Ma'arifa Ulya Adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat kita, sebagai umat Islam dapat membaca Al Qur’an dengan lancar, pelafalan hurufnya benar, dan apalagi jika dilantunkan dengan nada yang indah, serta dapat memahami makna...

Tak Sekedar Penjual Jamu

Oleh : Fiya Ma'arifa Ulya Menjalani profesi apapun jika dilakukan dengan ikhlas dan hati yang tulus insyaAllah akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Mungkin kalimat tersebut cukup tepat untuk menggambarkan sosok Bu Temon. Pemilik nama lengkap Temon Maryati ini...

Bu Tuminah, Ibu Tunggal & Tulang Punggung Keluarga

Oleh : Fiya Ma'arifa Ulya Jika bisa memilih, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berharap menjadi ibu tunggal/single mother. Setiap perempuan membutuhkan laki-laki sebagai pasangan hidup untuk bekerjasama dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak. Terlebih...

Kontak Layanan

0822-4378-8754 (Fiya)

kajianmuid@gmail.com

Perum Griya Kencana Permai (GKP), Blok D5/No. 1, Argorejo, Sedayu, Bantul, DIY

Share This