Blog

Etiam non erat consequat, tincidunt nulla quis, aliquet sapien. Nulla porta mauris lectus, vel ultrices libero fringilla vitae. Nam ut dolor id elit faucibus fermentum at non lacus.

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Jika bisa memilih, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berharap menjadi ibu tunggal/single mother. Setiap perempuan membutuhkan laki-laki sebagai pasangan hidup untuk bekerjasama dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak. Terlebih seorang Ibu Tunggal juga harus memainkan peran ganda dan menjadi tulang punggung keluarga. Begitu lah yang dialami oleh Ibu Tuminah.

Jamaah Kajianmu di Masjid Al Ishlah, Dusun Senowo, Argorejo ini sehari-hari bekerja membuat gerabah/keren di siang hari dan buruh di industri rumah tangga jajan pasar pada pagi harinya. Ibu Tuminah memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya adalah seorang perempuan yang saat ini bekerja selepas lulus dari SMK. Sementara anak kedua Bu Tuminah masih duduk di bangku kelas XI SMA dan anak terakhir masih SD.

Menjadi Ibu Tunggal

Ibu Tuminah sudah lama berpisah rumah dengan suaminya. Sejak anak pertama masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), namun saat itu ia dan suami masih bertemu satu tahun sekali di daerah asal suaminya. Tetapi setelah anak ketiga lahir, ia sudah benar-benar berpisah dengan suaminya. Perihal perpisahan dengan suami pun tidak terlalu banyak diceritakan oleh beliau.

Sejak berpisah dengan suami itu lah Bu Tuminah harus berperan menjadi Ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya. Ia tidak menyerah dengan keadaan tersebut. Hal ini terbukti dengan semangatnya dalam mengasuh ketiga anak dan menjalani berbagai profesi agar anak-anaknya bisa tetap pergi ke sekolah, mendapat tempat tinggal, serta makanan tercukupi.

“Ya kalau pagi saya bantu bikin jajan itu di Sundi. Ngantar-ngantarkan jajanan ke orang-orang. Setelah dari sana saya bikin cobek tapi tergantung cuaca juga Mbak. Kalau lagi panas ya saya bikin, tapi kalau hujan seperti ini ya susah karena nanti cobeknya tidak kering. Terus kadang disuruh orang untuk ngerjakan apa gitu juga saya Mbak.” Papar Bu Tuminah

Bahkan tidak jarang ia juga bekerja mengangkut kotoran sapi.

Tulang Punggung Keluarga

Menjadi Ibu tunggal sekaligus menempatkan Bu Tuminah menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi anak pertamanya juga merupakan seorang perempuan yang masih tergolong belia. Ia hampir menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Di pagi hari, ia pergi ke dusun sebelah yaitu Sundi Kidul untuk bekerja membuat jajanan pasar sekaligus mengantarkan jajanan ke lapak-lapak orang. Lalu di siang hari sekitar pukul 10.00 pagi, Bu Tuminah berganti pekerjaan dengan membuat cobek. Siang hari/sore hari jika ada orang yang emnyuruh mengangkut kotoran sapi, maka ia juga tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

“Pagi saya ngantarkan snack itu Mbak terus setelah dari sana ya bikin cobek, kalau siangnya ada orang yang nyuruh itu to ya saya juga ngerjain, apa ke sawah kalau ada orang nyuruh tandur itu Mbak. ” Jelasnya

Bekerja menjadi buruh di tempat pembuatan jajanan pasar, dalam sebulan Bu Tuminah mendaoatkan upah sebesar Rp. 300.000. Sementara keterampilan membuat cobek ia dapatkan dari bekerja di tempat sudaranya. Kemudian Bu Tuminah dipinjami alat pembuat gerabah oleh temannya yang hingga saat ini alat tersebut masih digunakan. Sejak dipinjami alat oleh temannya itu lah Bu Tuminah akhirnya membuat gerabah secara mandiri di rumah.

“Ya saya dulu ikut di saudara Mbak, itu di tempat Bu Mus. Terus kan saya dipinjami alat sama teman. Teman saya udah nggak bikin lagi. Jadi alatnya dipinjamkan ke saya, ya nanti kalau teman saya mau pakai lagi ya diambil lagi. Tapi ini kayanya dipakai saya.” Terang wanita berperawakan kecil tersebut

Ia pun menuturkan bagaimana proses pembuatan gerabah yang cukup panjang. Mulai dari mengambil tanah liat yang ada di sawah, proses mendiamkan tanah liat agar kandungan airnya berkurang, mencampur dengan tanah biasa, membuang kerikil-kerikil kecil yang ada di tanah liat, membentuk, hingga menjemur. Itu pun masih berwujud gerbah mentah. Proses yang cukup panjang tersebut ternyata tidak sebanding dengan harga jual gerabah mentah.

“Kalau yang cobek ukuran kecil itu Rp.700, kalau yang seukuran piring itu harganya Rp. 1000 dan kalau yang ukurannya besar banget itu Rp. 1500. Itu kan masih mentah Mbak..kalau sudah dibakar harganya Rp. 15.000 – 20.000, terus yang paling besar itu Rp. 25.000. Tapi kan saya nggak bakar Mbak..bakarnya di tempat orang karena nggak ada alatnya. Jadi ya dapat uangnya segitu aja ada yang Rp. 100, Rp. 1000, Rp. 1500.” Jelasnya

Kondisi tersebut tidak membuat Bu Tuminah berpaling dari usaha pembuatan gerabah mentah. Hal tersebut karena keterampilan yang dimiliki dan alat yang dimiliki hanya itu.

Ikut Kajianmu

Ia menuturkan bahwa sebenarnya sudah alam diajak oleh Ibu-Ibu di Dusun Sundi Kidul untuk ikut Kajianmu. Namun, Bu Tuminah merasa belum terpanggil. Setelah Kajianmu diselenggarakan di dusun ia tinggal, ia pun lantas ikut Kajianmu disana.

“Seneng Mbak kan jadi bisa ngaji, diajarin ngaji. Ya meskipun saya masih Iqro. Terus kan juga ada pinjamannya nah saya pingin mengajukan.” Tuturnya

Bu Tuminah mengatakan bahwa pengajuan pinjamannya adalah untuk membantunya membeli bahan-bahan membuat gerabah. Meskipun kami menduga bahwa pinjaman tersebut tentu saja untuk membantu perekonomiannya. Entah untuk membeli beras atau untuk membayar sekolah anaknya. Semoga Allah SWT menempatkan Ibu di tempat terbaik kelak di akhirat. Aamiin.

Kajianmu adalah program pemberdayaan masyarakat berbasis pengajian, pemberian pinjaman modal tanpa jaminan dan bunga, serta pendampingan usaha kepada Ibu-Ibu jamaah. 

Link

Home

Tentang Kajianmu

Donasi

Blog

Gallery

Kontak Layanan

Kabar Terbaru

Bu Ponirah, Sudah Mengaji Sampai Al Qur’an

Oleh: Fiya Ma'arifa Ulya Adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat kita, sebagai umat Islam dapat membaca Al Qur’an dengan lancar, pelafalan hurufnya benar, dan apalagi jika dilantunkan dengan nada yang indah, serta dapat memahami makna...

Tak Sekedar Penjual Jamu

Oleh : Fiya Ma'arifa Ulya Menjalani profesi apapun jika dilakukan dengan ikhlas dan hati yang tulus insyaAllah akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Mungkin kalimat tersebut cukup tepat untuk menggambarkan sosok Bu Temon. Pemilik nama lengkap Temon Maryati ini...

Bu Sugiyanti, Hati-Hati dalam Meminjam Uang

Oleh: Fiya Ma'arifa Ulya Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dijelaskan bahwasannya sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Memang, kita tidak bisa memungkiri jika pasar adalah jantung perekonomian masyarakat....

Kontak Layanan

0822-4378-8754 (Fiya)

kajianmuid@gmail.com

Perum Griya Kencana Permai (GKP), Blok D5/No. 1, Argorejo, Sedayu, Bantul, DIY

Share This