Blog

Teman-teman dapat menyimak kisah jamaah dan informasi lainnya melalui artikel - artikel di bawah ini.

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Salah satu amalan yang akan dibawa ketika sudah tak lagi di dunia ini adalah sedekah. Bersedekah pun bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Bisa dengan menyedekahkan uang, makanan, menyingkirkan duri di jalan, bahkan senyuman di depan saudara sesama muslim pun adalah sedekah.  Tak terkecuali yang dilakukan oleh Bu Kartiyem. Sehari-hari, Ibu yang kini berusia 65 tahun ini berjualan Bakso Tusuk dan Es Cincau di depan rumahnya. Ia biasa berjualan mulai sekitar pukul 10.00 Wib pagi sampai pukul 16.00 Wib sore hari.

Modal Jualan Bakso Tusuk

Wanita yang akrab disapa Budhe Karti oleh orang-orang sekitar ini mulai merintis berjualan sejak sekitar 6 tahun yang lalu. Awalnya yang berjualan adalah suami yakni keliling menjajakan es krim menggunakan sepeda. Namun semenjak suami menderita tulang keropos yang pernah membuat kaki suami Budhe Karti lumpuh, praktis aktivitas berjualan berhenti. Namun, Budhe Karti tidak mau diam. Dengan bantuan rekan suami, akhirnya ia diberi modal untuk menjalankan usaha bakso tusuk. Modal berjualan mulai dari bahan-bahan untuk membuat bakso, panci, blender, gerobak dan lain-lain.

Niki riyen sing modali niku tiyang tebih Mbak, tiyang Gunungkidul. Riyen niko nopo mawon nggih..nggih bahan-bahan bakso, nggih panci, nggih blender, kathah pokoke Mbak (read: Dahulu yang memberi modal pertama kali jualan bakso adalah orang jauh Mbak, orang dari Gunungkidul. Modalnya berupa bahan-bahan pembuatan bakso, panci, blender, dan banyak pokoknya Mbak).” Jelas Bu Karti menggunakan Bahasa Jawa

Awalnya, Budhe Karti hanya berjualan bakso tusuk. Namun seiring berjalannya waktu, ia melihat peluang untuk menyediakan minuman kepada para pembeli baksonya. Lalu muncullah ide untuk menjual es cincau disamping jualan utamanya. Lokasi berjualan pun sempat mengalami perpindahan. Pertama kali Budhe Karti menjajakan jualannya di depan rumah salah seorang tetangga yang terletak di pinggir jalan yang cukup ramai. Namun demikian, karena tetangganya kemudian juga membuka warung maka Budhe Karti merasa tidak enak. Akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu lokasi berjualan pindah ke depan rumahnya. Meskipun jalanan di depan rumah Budhe Karti tidak seramai tempat yang sebelumnya, tetapi pelanggan setia bakso tusuk Budhe Karti tetap datang dan menyantap makanan favorit mereka tersebut.

Nggih pindah mriki mawon. Lha nggih pripun nggih Mbak ngriko nggih mbuka dadose kan nggen kulo kegeser. Ketumpuk-tumpuk kalih ngriko. Pindah mriki mawon mboten nopo-nopo. Lha biasane nggih cah-cah sekolah niku sami mriki…mpun langganan. Wonten cah SMP, SMA, SMK..mriki nggih mundhut piyambak (read: Iya pindah kesini saja. Bagaimana lagi ya Mbak karena disana juga berjualan jadinya kan jualan saya tergeser, tumpang tindih dengan jualannya sana. Pindah kesini saja tidak apa-apa. Biasanya juga anak-anak sekolah suka mampir kesini, sudah jadi langganan. Ada anak SMP, SMA , SMK kesini dan mengambil sendiri-sendiri).” Lanjut Bu Karti sembari tersenyum

Memberi Tak Membuat Rugi

Selayaknya orang berjualan adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, maka lain dengan Budhe Karti. Meskipun mendapatkan keuntungan adalah tujuan, namun tak jarang ia membagikan jualannya secara cuma-cuma. Terlebih jika ada anak kecil yang datang dan mengatakan ingin makan bakso tusuk namun tidak membawa uang atau uangnya tidak cukup, maka Budhe Karti akan dengan senang hati untuk mengambilkan beberapa biji bakso dan memberikannya kepada anak kecil tersebut. Pun jika ada orang yang sebelumnya belum pernah bertemu dan mampir kesana, Budhe Karti juga tak sungkan untuk menjamu dengan bakso tusuk buatannya.

Ia dan suami memiliki prinsip bahwa memberi tak membuat usaha mereka rugi. Keuntungan tidak hanya di dapatkan dari jumlah uang yang diterima. Mereka senang jika ada anak-anak kecil yang datang dan meramaikan rumahnya, atau saat anak-anak sekolah datang dan mengambil bakso tusuk sendiri-sendiri itu juga hal yang menyenangkan untuk Bu Karti, dan keadaan-keadaan lain yang tidak bisa diukur dengan uang. Karena Bu Karti sadar bahwa hanya dengan pemberian sederhana itulah hal yang saat ini bisa dilakukan. Maka, memberi baginya dan suami tidak membuat rezeki mereka berkurang sama sekali.

Mpun mboten usah di bayar Mbak, mpun mboten usah. Namung pisan niki kok mriki..mboten usah dibayar kulo mpun untung. Kulo malah seneng Jenengan mpun mriki. Memberi niku mboten nggawe kulo rugi Mbak (read: Sudah tidak perlu membayar Mbak, sudah tidak usah. Hanya sekali saja kok kesini, tidak usah membayar saya sudah dapat keuntungan. Saya malah senang Mbak sudah kesini. Memberi itu tidak membuat saya rugi Mbak).” Ujar Bu Karti ditemani suami saat saya memberikan beberapa rupiah untuk mengganti bakso tusuk dan es cincau yang saya makan.

Kajianmu adalah program pemberdayaan masyarakat berbasis pengajian, pemberian pinjaman modal tanpa jaminan dan bunga, serta pendampingan usaha kepada Ibu-Ibu jamaah. 

Link

Home

Tentang Kajianmu

Donasi

Blog

Gallery

Kontak Layanan

Kabar Terbaru

Syawalan & Milad Kedua Kajianmu

Di tahun 2019 ini Kajianmu telah memasuki usia 2 tahun melakukan pemberdayaan di masyarakat. Program Kajianmu fokus untuk mengembangkan usaha mikro ibu-ibu jamaah yang ada di daerah Kecamatan Sedayu, Kecamatan Moyudan, dan Kecamatan Minggir dengan berbasis masjid yang...

Mbak Septi Ingin Betulkan Mesin Pengering

Agar suatu usaha dapat berjalan dengan maksimal maka diperlukan peralatan yang memadai.  Apalagi jika peralatan tersebut sebagai komponen utama dan sangat sulit menggunakan cara-cara manual. Mesin usaha adalah kepastian yang harus berwujud. Sebagaimana curhatan salah...

Bu Sugiyem Buka Usaha Laundry

Seperti Ibu rumah tangga di desa pada umumnya, Bu Sugiyem dahulu sehari-harinya hanya mengurusi pekerjaan rumah tangga. Ia dan keluarga tinggal di Dusun Ngentak, Argorejo, Sedayu, Bantul. Rumah Bu Sugiyem tampak sangat sederhana dengan dinding batu bata yang masih...

Kontak Layanan

0822-4378-8754 (Fiya)

kajianmuid@gmail.com

Perum Griya Kencana Permai (GKP), Blok D5/No. 1, Argorejo, Sedayu, Bantul, DIY

Share This